Beberapa dari Anda mungkin pernah menemukan artikel online dengan kata kunci yang diulang-ulang. Sebagai contoh misalkan Anda menemukan kata kunci “SEO Sukses” yang disebutkan secara berulang pada artikel berjudul “Lima Kunci SEO Sukses.”
Dahulu, praktik ini sering dikaitkan Search Engine Optimization yaitu melalui apa yang disebut sebagai keyword density. Pada saat itu, banyak yang percaya bahwa semakin tinggi persentase kemunculan kata kunci dalam sebuah konten, maka semakin baik peringkatnya di hasil pencarian.
Namun, pandangan ini berubah seiring berjalannya waktu. Faktornya beragam, namun perubahan algoritma di search engine adalah salah satu faktor utamanya.
Lantas, apa itu keyword density ? Silakan simak artikel ini sampai selesai karena akan membahas tentang keyword density , mengapa dulunya dianggap penting, bagaimana evolusinya dalam dunia SEO, dan bagaimana penerapan keyword density mengoptimalkan konten Anda.
Cara Mengukur Keyword Density
Secara historis, keyword density dianggap membantu mesin pencari dalam memahami topik utama dari sebuah halaman web. Sebab, semakin sering sebuah kata kunci muncul maka semakin relevan halaman tersebut dalam penilaian algoritma Google. Oleh sebab itu, kehadiran frasa kunci dalam konten membantu algoritma Google memahami konteks dari informasi yang disajikan. Karena itu, kata kunci dipandang sebagai cara yang bisa dilakukan untuk menaikkan ranking di search engine result page (SERP).
Mengutip John Mueller dalam semrush, Google tidak lagi menggunakan keyword density sebagai metrik utama dalam menentukan peringkat. Sebab, sistem Google kini memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengenali topik sebuah website bahkan jika kata kunci tidak disebutkan secara eksplisit.
Apa Itu Keyword Density ?
Keyword density jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kerapatan kata kunci. Sama seperti definisi etimologis tersebut, keyword density adalah sebuah metrik yang mengukur seberapa banyak sebuah kata kunci atau frasa muncul dalam sebuah konten berbanding jumlah katanya secara keseluruhan. Keyword density diukur dalam bentuk persentase. Perhitungannya dilakukan dengan membagi jumlah kata kunci dengan total jumlah kata di dalam sebuah konten. Kemudian, hasil dari perhitungan tersebut dikalikan seratus untuk mendapatkan persentase.
Cara Mengukur Keyword Density
Secara historis, keyword density dianggap membantu mesin pencari dalam memahami topik utama dari sebuah halaman web. Sebab, semakin sering sebuah kata kunci muncul maka semakin relevan halaman tersebut dalam penilaian algoritma Google. Oleh sebab itu, kehadiran frasa kunci dalam konten membantu algoritma Google memahami konteks dari informasi yang disajikan. Karena itu, kata kunci dipandang sebagai cara yang bisa dilakukan untuk menaikkan ranking di search engine result page (SERP).
Apakah keyword density Masih Penting?
Terdapat konsensus bahwa saat keyword density tidak lagi faktor peringkat utama di Google. Sebab, banyak pandangan dari ahli SEO yang menyatakan bahwa keyword density tidak lagi menjadi faktor peringkat utama peringkat website di SERP. Bahkan, terdapat anggapan bahwa terlalu fokus pada keyword density dapat berisiko mengarah pada praktik keyword stuffing yang justru dapat merugikan upaya optimasi website Anda. Melansir gotchseo, tidak korelasi yang antara keyword density dengan dan peringkat di SERP. Temuannya, halaman-halaman yang menduduki peringkat teratas justru memiliki keyword yang tidak padat. Tentu, ini menjadi indikasi bahwa Google lebih memprioritaskan konten berkualitas tinggi yang ditulis secara alami dan berfokus pada pengalaman pengguna dibandingkan dengan konten yang dipenuhi dengan pengulangan kata kunci.
Mengutip John Mueller dalam semrush, Google tidak lagi menggunakan keyword density sebagai metrik utama dalam menentukan peringkat. Sebab, sistem Google kini memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengenali topik sebuah website bahkan jika kata kunci tidak disebutkan secara eksplisit.
Praktik Terbaik Penggunaan Keyword Density di Era Modern
Melihat perkembangan algoritma mesin pencari dan studi kasus yang sudah dijelaskan sebelumnya, tentu fokus utama dalam penggunaan kata kunci adalah pada kualitas konten dan relevansinya bagi pengguna. Berikut adalah beberapa praktik terbaik yang dapat Anda terapkan:-
Fokus pada Kualitas dan Relevansi Konten
-
Lakukan Riset Kata Kunci
-
Gunakan Kata Kunci yang Alami dan Strategis








