• Home
  • Research
  • Apakah Gen Z Benar-Benar Lebih Bodoh dari Generasi Sebelumnya? Ini Kata Riset Ilmiah!

Apakah Gen Z Benar-Benar Lebih Bodoh dari Generasi Sebelumnya? Ini Kata Riset Ilmiah!

Benarkah Gen Z lebih bodoh dari orang tuanya? Simak fakta ilmiah di baliknya, mulai dari Reverse Flynn Effect hingga dampak gadget!
Last Updated
Read
TABLE OF CONTENTS

Dulu, ada teori populer bernama “Flynn Effect” yang menyatakan bahwa setiap generasi baru cenderung memiliki skor kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor, misalnya seperti akses pendidikan yang semakin luas, kondisi kesehatan dan gizi yang lebih baik, serta lingkungan yang semakin kompleks. 

Sayangnya, tren tersebut belakangan justru menunjukkan ke arah yang sebaliknya, atau dikenal juga sebagai “Reverse Flynn Effect”. Laporan tes akademis internasional PISA menunjukkan adanya penurunan skor matematika, sains, dan literasi membaca di banyak negara. Menariknya, penurunan tersebut sudah mulai terlihat bahkan sebelum pandemi COVID-19.

Bahkan fenomena ini juga tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai Gen Z tentu pasti Anda sering sekali mendengar sindiran dari orang tua seperti, “Zaman Ibu dulu pelajaran susah banget, harus hafal luar kepala. Anak sekarang kok malah gampang nyerah dan malas mikir?” 

Namun, dalam penelitian neurosains dan psikologi kognitif terbaru menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak ada bukti bahwa otak Gen Z secara biologis berubah menjadi “lebih bodoh” dibanding generasi sebelumnya. Justru yang sebenarnya terjadi bisa saja adanya perubahan Gen Z dalam menggunakan pola kemampuan kognitif akibat lingkungan digital yang serba cepat, penuh distraksi, dan ketersediaan informasi yang serba instan.

Penyebab Gen Z “Lebih Bodoh” Dibanding Generasi Orang Tuanya

Tentunya, penurunan kemampuan akademis dan daya nalar seseorang tidak muncul begitu saja. Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan belajar dapat memengaruhi kebiasaan berpikir yang terbentuk. 

Pada Gen Z, salah satu perubahan terbesar datang dari terpaparnya digitalisasi yang membentuk cara mereka mencari informasi, mempertahankan fokus, dan menyelesaikan masalah. 

Setidaknya ada tiga faktor penyebab yang sering dikaitkan dengan argumen Gen Z yang dianggap lebih “bodoh” dibanding generasi sebelumnya:

1. Informasi yang Terlalu Mudah Diakses dan Bikin “Malas Berpikir” 

Informasi yang Terlalu Mudah Diakses dan Bikin Malas Berpikir

Dulu, ketika orang tua kita harus mengerjakan tugas, mereka mungkin perlu pergi ke perpustakaan, mencari buku fisik, membaca bab demi bab, kemudian mencatat informasi yang dianggap penting. 

Proses yang relatif panjang tersebut membuat mereka terbiasa mencari, memahami, dan mengolah informasi secara mandiri. Berbeda dengan Gen Z, ketika mendapat tugas, mereka kini bisa mengetik satu prompt di ChatGPT atau memasukkan kata kunci ke search engine, lalu mendapatkan jawaban dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut berkaitan dengan fenomena psikologis yang disebut cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menggunakan bantuan dari luar untuk mengurangi beban berpikir. Salah satu contohnya adalah ketika kita tidak berusaha mengingat suatu informasi karena tahu informasi tersebut bisa dicari kembali melalui internet.

Kebiasaan ini sebenarnya tidak selalu buruk. Kalkulator, GPS, search engine, hingga AI memang dibuat untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, ketika hampir seluruh proses mengingat, mencari, merangkum, hingga menyusun jawaban diserahkan kepada teknologi, seseorang bisa dengan mudah kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir secara mandiri.

2. Screen Time Berlebihan yang Berdampak Langsung Pada Kesehatan Mental

Gen Z sendiri dikenal sebagai cikal bakal adanya istilah “digital native”, yaitu generasi yang ditumbuh dengan smartphone atau gadget lainnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, kepemilikan gadget pada kelompok usia muda, termasuk Gen Z sudah sangat tinggi, seperti terlihat pada tabel berikut:

Screen Time Berlebihan yang Berdampak Langsung Pada Kesehatan Mental

Tingginya kepemilikan smartphone hingga 94,18% pada kelompok usia 15–24 tahun menunjukkan betapa bergantungnya Gen Z pada gadget. Hal ini juga membuat penggunaan gadget dan durasi screen time pada Gen Z semakin tinggi, baik untuk bersosial media, mencari informasi, belajar, bekerja, maupun sekadar mencari hiburan.

Laporan riset dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2025 menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan gadget lebih dari lima jam sehari dengan sejumlah indikator kesejahteraan yang lebih buruk. 

Dalam data yang dianalisis, kelompok tersebut memiliki risiko 44% lebih tinggi mengalami kesehatan mental yang buruk, 47% lebih tinggi mengalami ketidakpuasan terhadap kehidupan, dan 62% lebih tinggi mengalami rendahnya eudaimonia, yaitu perasaan bahwa hidup memiliki makna dan tujuan.

Namun, angka tersebut tidak berarti bahwa screen time secara langsung menyebabkan kondisi tersebut. Hubungan keduanya dapat dipengaruhi berbagai faktor lain. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah jam di depan layar, tetapi juga dampaknya terhadap tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan rutinitas sehari-hari.

Meski begitu, ketika pikiran terus dipenuhi notifikasi, chat, dan berbagai informasi dari social media, fokus yang tersedia untuk melakukan aktivitas yang mampu meningkatkan kognitif dapat berkurang secara drastis.

3. Terpapar Konten Brain Rot 

Terpapar Konten Brain Rot

Selain durasi, jenis konten yang dikonsumsi sehari-hari juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai kemampuan kognitif di era digital. Seiringnya populernya fenomena ini, istilah “brain rot”, bahkan terpilih sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press. 

@.vn9420

tung tung tung sahur 🪵 #tungtungtungsahur #tungtungsahur #balerinacappuchina #foryou #tiktok #viral #fyp #capcut

♬ suara asli – TUNG TUNG SAHUR🪵 – TUNG TUNG SAHUR🪵

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap penurunan kondisi mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan terhadap konten online yang dianggap dangkal atau tidak memberikan rangsangan intelektual.

Fenomena ini dapat terlihat melalui kebiasaan seperti doomscrolling. Sistem rekomendasi, beranda, atau For You Page pada social media seperti Instagram Reels maupun TikTok juga membuat Gen Z terus mendapatkan konten baru sesuai dengan apa mereka yang disukai, sehingga membuat mereka seakan-akan terjebak untuk terus mengonsumi konten tersebut tanpa terkendali.

Menurut teori proses ganda psikolog Daniel Kahneman, proses berpikir manusia dapat dipahami melalui dua sistem. Sistem pertama bekerja secara cepat, otomatis, dan intuitif, sedangkan Sistem 2 membutuhkan proses yang lebih lambat, sadar, dan analitis.

Ketika Gen Z sudah terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, maka jelas akibatnya mereka akan kesulitan membaca teks panjang, memahami argumen yang kompleks, atau menyelesaikan persoalan tanpa jawaban instan. 

Anggapan mengenai Gen Z yang “lebih bodoh” dari orang tuanya merupakan kesimpulan yang terlalu cepat di ambil. Meski begitu, Gen Z tetap perlu menyadari bahwa segala kemudahan akses yang mereka miliki tetap berpotensi mengurangi kemampuan kognitif mereka.

Di sisi lain, Gen Z juga dihadapkan dengan tuntutan beban multi tasking, yang justru membuat mereka semakin tidak bisa lepas dari gadget. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Sedikit saran untuk Gen Z, penting untuk tetap melatih kemampuan membaca secara mendalam, beristirahat yang cukup, serta berikan waktu bagi diri sendiri untuk memproses masalah tanpa selalu mengandalkan bantuan instan. Dengan begitu, teknologi dapat tetap berfungsi sebagai alat yang membantu dan meningkatkan kemampuan, bukan untuk menggantikan kemampuan dalam berpikir itu sendiri. 

Referensi: 

  • Badan Pusat Statistik. (2025). Proporsi individu yang menguasai/memiliki telepon genggam menurut kelompok umur, 2025. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
  • Degen, R. J. (2025). The cognitive decline of Generation Z: Technological dependence, digital overexposure and the historic collapse of PISA performance. International Journal on Integrating Technology in Education, 14(4), 1–11. https://doi.org/10.5121/ijite.2025.14401
  • Neves, H. C., & Neves, K. C. L. (2026). Has the Flynn Effect reversed? Environmental cognitive restructuring and the academic performance of Generation Z. The International Journal of Business Management and Technology, 10(2), 35–48.
  • OECD. (2025). Screen time and subjective well-being: Insights from a few countries worldwide (OECD WISE Centre Policy Insights). OECD Publishing.
  • OECD. (2026). PISA 2025 results (Volume I): Future-ready students. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/73451bc5-en
  • Yousef, A. M. F., Alshamy, A., Tlili, A., & Metwally, A. H. S. (2025). Demystifying the new dilemma of brain rot in the digital era: A review. Brain Sciences, 15(3), 283. https://doi.org/10.3390/brainsci15030283
Beri nilai artikel ini:
4.7/5 - (77 votes)
Tandai kami agar artikel terbaru kami selalu muncul untuk Anda.
Articles you’ll love