Glossary

Apa Itu AI Slop dan Dampaknya bagi Brand?

Kenali pengertian AI slop, ciri-cirinya, dampaknya terhadap kepercayaan consumer, serta cara brand menjaga kualitas konten yang dihasilkan oleh AI.

AI Slop
Daftar isi

Pada Desember 2025, Merriam-Webster menetapkan slop sebagai Word of the Year 2025. Istilah ini merujuk pada konten digital bermutu rendah yang umumnya diproduksi dalam jumlah besar dengan bantuan AI (TechCrunch, 15 Desember 2025). Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam produksi konten, istilah AI slop pun semakin sering digunakan.

Bagi brand, persoalannya bukan terletak pada penggunaan AI itu sendiri, melainkan pada hasil yang generik dan minim kurasi. Pembahasan berikut mengulas pengertian AI slop, ciri-cirinya, dampaknya terhadap kepercayaan consumer berdasarkan survei Gartner 2026, serta cara brand menghindarinya.

Apa Itu AI Slop?

Pengertian AI slop penting dipahami agar brand dapat membedakan konten AI berkualitas rendah dari konten yang diproduksi dengan bantuan AI melalui proses kurasi yang baik.

AI slop adalah konten digital bermutu rendah, seperti gambar, video, atau teks, yang dihasilkan AI dalam jumlah besar tanpa proses kurasi yang memadai. Kata slop dipilih karena memiliki konotasi sesuatu yang kotor dan tidak menyenangkan, seperti lumpur atau lendir. Istilah ini mencerminkan sikap publik yang cenderung mengejek fenomena tersebut daripada merasa takut terhadap perkembangan AI (TechCrunch, 15 Desember 2025).

Dalam banyak kasus, kritik terhadap AI slop tidak ditujukan pada teknologi yang digunakan, melainkan pada kualitas hasil dan minimnya proses kurasi sebelum konten dipublikasikan.

Ciri-Ciri AI Slop

Salah satu gambaran yang mudah dikenali dapat dilihat dari banyaknya penggunaan AI untuk membuat poster UMKM. 

Fenomena tersebut memperlihatkan beberapa ciri AI slop yang juga dapat ditemukan dalam konten marketing.

1. Visual Terlalu Mulus tetapi Terlihat Janggal

Salah satu ciri AI slop adalah tampilan visual yang terlalu sempurna, tetapi memiliki detail yang tidak masuk akal. Misalnya, karakter terlihat mulus seperti model game 3D, makanan memiliki tekstur menyerupai plastik, atau background didominasi gradasi warna yang mencolok.

Kesalahan visual seperti bayangan yang tidak konsisten, jumlah jari yang berlebihan, hingga teks yang sulit dibaca dapat membuat konten terlihat tidak natural. Kondisi ini juga dapat memicu efek uncanny valley, yaitu perasaan tidak nyaman ketika sesuatu terlihat hampir menyerupai manusia atau objek nyata, tetapi masih memiliki kejanggalan.

2. Tampilan Seragam dan Generik

Konten yang dibuat menggunakan prompt terlalu umum cenderung menghasilkan visual dengan gaya serupa. Misalnya, poster warung ayam geprek, dekorasi, hingga banner pangkas rambut yang memiliki komposisi dan elemen visual hampir sama.

Bagi brand, penggunaan visual yang terlalu generik dapat membuat materi promosi kehilangan karakter. Akibatnya, konten sulit dibedakan dari kompetitor dan berisiko membuat audiens menganggap brand kurang memperhatikan kualitas komunikasinya.

3. Tidak Menampilkan Bukti Nyata

Konten AI slop juga sering tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan produk, orang, atau pengalaman nyata. Misalnya, brand menggunakan visual produk hasil generasi AI tanpa memperlihatkan produk aslinya.

Tanpa bukti pendukung, consumer akan kesulitan menilai apakah informasi dan klaim yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kondisi produk. Hal ini dapat mengurangi kepercayaan terhadap konten maupun brand yang memublikasikannya.

Dampak AI Slop terhadap Kepercayaan Brand

Sejumlah survei Gartner pada 2026 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa consumer mulai lebih kritis terhadap penggunaan AI dalam konten. Meski demikian, hasil survei tersebut belum tentu merepresentasikan perilaku consumer di Indonesia.

1. Consumer Mulai Meragukan Keaslian Konten

Survei terhadap 1.539 consumer di Amerika Serikat pada Oktober 2025, yang dirilis pada 16 Maret 2026, menemukan bahwa 68% responden sering mempertanyakan apakah konten yang mereka lihat benar-benar nyata.

Selain itu, 50% responden menyatakan lebih memilih brand yang tidak menggunakan generative AI dalam konten untuk consumer. Temuan ini menunjukkan bahwa transparansi dan keaslian konten dapat menjadi pertimbangan dalam membangun kepercayaan terhadap brand.

2. Kualitas Konten Dinilai Menurun

Survei Gartner terhadap 307 consumer di Amerika Serikat pada Maret 2026, yang dirilis pada 9 Juni 2026, menemukan bahwa 49% responden setuju bahwa GenAI membuat kualitas konten menurun.

Angka tersebut bahkan mencapai 57% di kalangan Gen Z dan milenial. Temuan ini menjadi pengingat bahwa penggunaan AI secara masif tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas content marketing.

3. Rekomendasi dari Manusia Lebih Dibutuhkan

Survei terhadap 1.006 consumer di Amerika Serikat, yang dirilis pada 22 September 2026, mencatat bahwa 35% responden menjadi lebih jarang mengandalkan influencer karena konten AI.

Selain itu, 65% responden menilai perusahaan terlalu banyak menggunakan konten AI dalam aktivitas marketing. Sebanyak 43% juga menyatakan lebih sering mengandalkan orang nyata untuk mendapatkan rekomendasi produk.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman dan rekomendasi dari orang nyata masih memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan consumer.

Kesalahan Brand yang Memperbesar Risiko AI Slop

Risiko AI slop tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh proses produksi dan pengelolaan konten. 

Berikut tiga kesalahan yang perlu dihindari brand.

1. Menggunakan Hasil AI Tanpa Kurasi

Mengejar kecepatan produksi konten tanpa melakukan pemeriksaan dapat membuat berbagai kesalahan luput dari perhatian. Misalnya, detail visual yang tidak masuk akal, informasi yang keliru, atau kesalahan penulisan.

Karena itu, setiap konten yang dihasilkan AI tetap perlu melalui proses review sebelum dipublikasikan. Pemeriksaan oleh tim dapat membantu memastikan kualitas visual, akurasi informasi, dan kesesuaiannya dengan identitas brand.

2. Menggunakan Prompt yang Terlalu Umum

Prompt yang terlalu umum dapat menghasilkan konten dengan tampilan generik dan sulit dibedakan dari brand lain.

Untuk menghindarinya, brand perlu menyusun prompt yang lebih spesifik dan terstruktur. Sertakan arahan mengenai warna, gaya visual, tone of voice, karakter audiens, serta detail produk yang harus ditampilkan. Dengan begitu, hasil AI dapat lebih sesuai dengan kebutuhan campaign dan identitas brand.

3. Tidak Transparan dalam Penggunaan AI

Menyembunyikan penggunaan AI dapat menjadi masalah ketika konten yang ditampilkan membuat audiens mengira bahwa visual, pengalaman, atau rekomendasi tersebut berasal dari kondisi nyata.

Gartner menyarankan brand untuk memberikan label pada pengalaman berbasis AI agar consumer dapat memahami ketika mereka berinteraksi dengan teknologi tersebut. Transparansi seperti ini membantu mengurangi potensi kesalahpahaman dan menjaga kepercayaan audiens.

Perbedaan AI Slop dengan Konten AI Terkurasi

Perbedaan utama antara AI slop dan konten AI yang terakurasi terletak pada proses produksi serta kualitas kurasinya, bukan sekadar penggunaan teknologi AI.

32e79135-6412-4078-ad43-7da61e01f276.webp

Catatan: Pembedaan ini bersifat umum dan bukan merupakan standar baku.

Cara Brand Menghindari AI Slop

Gartner menyarankan marketer untuk mempertimbangkan penggunaan GenAI sebagai keputusan yang berkaitan dengan kepercayaan consumer, bukan sekadar keputusan teknologi. Beberapa langkah berikut dapat diterapkan brand untuk menjaga kualitas konten berbantuan AI.

  • Lakukan kurasi sebelum publikasi. Periksa detail visual, akurasi informasi, dan kesalahan penulisan. Jika diperlukan, lakukan penyuntingan manual pada teks maupun layout agar hasil akhirnya lebih rapi.

  • Terapkan transparansi penggunaan AI. Berikan label pada pengalaman atau konten berbasis AI agar audiens dapat memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan. Jika memungkinkan, jadikan fitur AI sebagai pilihan, bukan satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan brand.

  • Sertakan bukti pendukung. Gunakan foto produk asli, data yang dapat diverifikasi, dan ulasan customer untuk memperkuat informasi yang disampaikan.

  • Tempatkan AI sebagai alat bantu produksi. Manfaatkan AI untuk membantu membuat aset visual, mencari ide, atau menyusun draft. Namun, pesan utama dan karakter komunikasi brand tetap perlu melalui proses kurasi manusia.

Pertanyaan Seputar AI Slop

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika brand mulai menggunakan AI dalam produksi konten.

1. Apakah Semua Konten AI Termasuk AI Slop?

Tidak. AI slop merujuk pada konten bermutu rendah yang diproduksi secara massal tanpa kurasi memadai. Sementara itu, konten yang dibuat dengan bantuan AI dan telah melalui proses review, editing, dan pemeriksaan fakta tetap dapat menghasilkan kualitas yang baik.

2. Apakah Brand Kecil Perlu Khawatir dengan AI Slop?

Ya. Risiko ini juga perlu diperhatikan oleh UMKM, terutama yang mengandalkan poster dan konten promosi sederhana untuk menarik perhatian audiens.

Belakangan ini misalnya, banyak menyoroti penggunaan visual AI yang serupa pada poster UMKM. Jika tidak dikurasi, konten semacam ini dapat membuat bisnis terlihat kurang profesional dan sulit dibedakan dari kompetitor.

Menjaga Kualitas Konten di Tengah Kemudahan AI

AI slop pada dasarnya bukan persoalan penggunaan teknologi, melainkan hilangnya perhatian terhadap kualitas dan detail dalam proses produksi konten. Brand yang tetap melibatkan manusia dalam tahap kurasi memiliki peluang lebih baik untuk menjaga karakter dan konsistensi komunikasinya.

Namun, data Gartner yang dibahas berasal dari consumer di Amerika Serikat sehingga penerapannya di Indonesia tetap perlu mempertimbangkan karakter audiens lokal. Dengan transparansi penggunaan AI, proses kurasi yang memadai, dan dukungan bukti nyata, brand tetap dapat memanfaatkan AI tanpa mengorbankan kepercayaan consumer.

Hadirkan Review Real Consumer dengan KOC dan Publikasi Media

Ketika konten AI semakin banyak ditemukan, pengalaman dan rekomendasi dari orang nyata dapat menjadi salah satu cara brand membangun kepercayaan consumer. Melalui panel seedbacklink, kamu dapat menjajaki kolaborasi dengan Key Opinion Consumer (KOC), yaitu konsumen yang membagikan pengalaman menggunakan produk berdasarkan sudut pandang mereka sendiri.

Selain itu, brand juga dapat memperkuat eksposur dan visibilitas online melalui jasa press release, jasa backlink media nasional, jasa backlink blog, dan jasa SEO. Dengan dukungan publikasi media dan strategi SEO, informasi resmi brand dapat menjangkau audiens yang lebih luas serta lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari.

Beri nilai artikel ini:

4.5/5 (59 votes)

Tandai kami agar artikel terbaru kami selalu muncul untuk Anda.

Add as a preferred source on Google
Tampil di Media & Blog Made Easy! Daftar Sekarang di seedbacklink