Di tengah persaingan digital marketing, mendapatkan perhatian audiens tidak cukup hanya dengan menjalankan ads atau rutin membuat content. Brand juga perlu membangun reputasi melalui pemberitaan media yang dapat memperluas jangkauan sekaligus memperkuat kredibilitas bisnis.
Itulah alasan mengapa perusahaan besar hingga startup tetap menjalankan aktivitas public relations (PR) untuk mendapatkan media coverage. Namun, tidak semua aktivitas bisnis layak menjadi berita. Brand perlu memiliki cerita yang relevan, menarik, dan bernilai bagi audiens media yang dituju.
Lantas, apa itu media coverage, apa saja manfaatnya, dan bagaimana cara mendapatkannya? Berikut panduan yang dapat Anda terapkan untuk bisnis.
Apa Itu Media Coverage?
Media coverage adalah pemberitaan atau peliputan suatu brand, perusahaan, produk, maupun aktivitas bisnis oleh media. Bentuknya dapat berupa artikel berita, wawancara, review, liputan acara, hingga segmen di televisi dan radio.
Media coverage berbeda dari brand mention biasa. Brand mention dapat muncul dalam berbagai percakapan atau content yang dibuat oleh individu, sedangkan media coverage merujuk pada eksposur melalui pemberitaan atau peliputan media.
Sebagai contoh, ketika sebuah portal berita membahas pendanaan terbaru startup, artikel tersebut dapat menjadi media coverage bagi perusahaan yang diberitakan. Begitu pula ketika media meliput program sosial sebuah brand atau mewawancarai CEO mengenai tren industri.
Namun, mendapatkan pemberitaan tidak otomatis meningkatkan reputasi bisnis. Dampaknya bergantung pada kredibilitas media, relevansi audiens, konteks pemberitaan, dan sentimen yang terbentuk terhadap brand.
Manfaat Media Coverage bagi Bisnis
Media coverage tidak hanya berfungsi untuk memperkenalkan brand kepada audiens baru. Jika direncanakan dengan tepat, pemberitaan juga dapat mendukung strategi PR, brand awareness, hingga digital marketing.
1. Meningkatkan Brand Awareness
Pemberitaan media membantu brand menjangkau audiens di luar jaringan yang sudah dimiliki. Hal ini berguna ketika perusahaan memperkenalkan produk baru, memasuki pasar baru, atau ingin meningkatkan awareness di kalangan target customer.
Misalnya, brand skincare lokal yang sebelumnya dikenal melalui Instagram dapat menjangkau audiens yang lebih luas ketika produknya dibahas oleh media kecantikan atau portal berita nasional.
Efektivitasnya tetap bergantung pada kecocokan antara audiens media dan target market brand. Jangkauan besar tidak selalu berarti eksposur yang relevan.
2. Memperkuat Kredibilitas Brand
Pemberitaan dari media yang kredibel dapat membantu audiens mengenal perusahaan melalui perspektif editorial di luar komunikasi brand sendiri.
Contohnya, startup yang mendapat pendanaan dapat memperoleh eksposur melalui pemberitaan mengenai nilai investasi, profil investor, dan rencana pengembangan bisnisnya. Informasi tersebut memberikan konteks yang lebih konkret dibandingkan klaim promosi di website perusahaan.
Meski demikian, media coverage bukan jaminan bahwa suatu bisnis dapat dipercaya. Isi pemberitaan, reputasi media, dan bukti yang disampaikan tetap menjadi faktor penting.
3. Mendukung Reputasi dan Positioning
Media coverage juga dapat membantu brand membangun positioning di industri tertentu. Caranya adalah dengan menghadirkan cerita yang konsisten dengan keahlian, nilai, atau solusi yang ditawarkan perusahaan.
Sebagai contoh, perusahaan teknologi yang rutin membagikan riset mengenai keamanan data berpeluang memperoleh perhatian media teknologi ketika hasil riset tersebut relevan dengan isu yang sedang berkembang.
Dengan pendekatan ini, brand tidak hanya dikenal karena produknya, tetapi juga karena insight dan kontribusinya terhadap industri.
4. Membuka Peluang Partnership dan Investasi
Pemberitaan mengenai pencapaian bisnis dapat membantu memperluas eksposur perusahaan kepada calon investor, partner, maupun stakeholder lainnya.
Misalnya, pengumuman pendanaan yang disertai informasi tentang perkembangan bisnis dan rencana ekspansi dapat menarik perhatian pihak yang memiliki kepentingan terhadap industri tersebut.
Namun, media coverage sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari strategi komunikasi bisnis, bukan pengganti fundamental perusahaan. Investor tetap mempertimbangkan kinerja keuangan, model bisnis, dan prospek pertumbuhan sebelum mengambil keputusan.
5. Mendukung Strategi SEO
Media coverage online dapat memberikan manfaat tambahan bagi strategi SEO, terutama ketika artikel pemberitaan memuat nama brand, membahas produk, atau menyertakan tautan menuju website perusahaan.
Tautan dari website eksternal berpotensi membantu mesin pencari memahami hubungan antara website dan sumber lain. Namun, tidak semua pemberitaan menghasilkan backlink, dan backlink tidak otomatis meningkatkan ranking.
Karena itu, evaluasi media coverage sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah artikel. Perhatikan pula relevansi website, kualitas backlink, referral traffic, dan kontribusinya terhadap tujuan SEO.
Jenis-Jenis Media Coverage
Media coverage dapat dibedakan berdasarkan format pemberitaan maupun cara brand memperoleh eksposur. Dalam praktik PR dan digital marketing, penting untuk membedakan jenis media dari model distribusinya.
1. Earned Media
Earned media adalah eksposur yang diperoleh tanpa membeli penempatan pemberitaan secara langsung. Contohnya adalah liputan editorial, wawancara oleh jurnalis, dan review independen dari media.
Brand dapat mengupayakannya melalui media pitching, penyediaan data yang relevan, atau pengumuman yang memiliki nilai berita.
Keunggulannya terletak pada independensi editorial. Namun, brand tidak dapat memastikan apakah media akan menerbitkan cerita tersebut atau menentukan seluruh isi pemberitaannya.
2. Paid Media
Paid media adalah eksposur yang diperoleh melalui pembayaran atau kerja sama komersial. Contohnya meliputi advertorial, sponsored article, dan branded content.
Model ini memungkinkan brand memilih media, mengatur pesan utama, dan merencanakan jadwal publikasi sesuai kesepakatan.
Meski lebih terkontrol, paid media tetap perlu memperhatikan transparansi konten berbayar dan ketentuan media. Pemberitaan komersial juga tidak selalu memiliki tingkat kepercayaan yang sama dengan liputan editorial independen.
3. Owned Media
Owned media adalah kanal komunikasi yang dikelola oleh brand sendiri, seperti website, blog, newsroom, dan halaman press release.
Kanal ini bukan media coverage eksternal dalam pengertian yang ketat. Namun, owned media berperan penting dalam mendukung strategi PR karena menyediakan informasi resmi yang dapat dirujuk oleh jurnalis maupun audiens.
Ketiganya dapat digunakan secara bersamaan. Brand dapat memublikasikan informasi di owned media, mendistribusikannya melalui paid media, lalu mengupayakan earned media dari jurnalis yang menilai informasi tersebut layak diberitakan.
Cara Mendapatkan Media Coverage
Untuk mendapatkan media coverage yang relevan, brand perlu mengembangkan cerita yang memiliki nilai berita, memilih media yang tepat, dan membangun hubungan profesional dengan jurnalis.
1. Siapkan Cerita yang Memiliki Nilai Berita
Tidak semua pencapaian internal perusahaan menarik bagi publik. Pengumuman produk baru, misalnya, akan lebih kuat jika disertai inovasi yang relevan, data pendukung, atau solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi audiens.
Beberapa topik yang dapat dikembangkan menjadi bahan pemberitaan meliputi:
-
Peluncuran produk dengan inovasi atau manfaat yang jelas.
-
Hasil riset yang mengungkap tren atau perubahan perilaku konsumen.
-
Pendanaan, ekspansi, atau pencapaian bisnis yang signifikan.
-
Partnership strategis yang memberikan dampak konkret.
-
Program sosial yang menjawab kebutuhan komunitas.
Sebagai contoh, pengumuman ekspansi bisnis dapat dikembangkan menjadi cerita yang lebih menarik dengan menjelaskan pasar yang dituju, alasan pemilihan wilayah, serta dampaknya terhadap konsumen atau industri.
Prinsipnya, jangan hanya bertanya apa yang ingin diumumkan perusahaan. Pertimbangkan juga mengapa informasi tersebut penting bagi pembaca media.
2. Selenggarakan Event yang Relevan
Event dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan dengan media sekaligus menghasilkan materi pemberitaan. Namun, event tidak otomatis menghasilkan media coverage hanya karena menghadirkan banyak peserta atau influencer.
Agar lebih menarik, rancang event berdasarkan isu yang relevan dengan target audiens. Misalnya, brand kecantikan dapat menyelenggarakan diskusi mengenai literasi skincare bersama dermatolog, sedangkan perusahaan teknologi dapat mengadakan forum mengenai keamanan data.
Pastikan event memiliki agenda yang jelas, narasumber kompeten, serta insight yang dapat dikembangkan menjadi berita. Dokumentasi visual dan akses wawancara juga dapat memudahkan jurnalis meliput acara.
3. Distribusikan Press Release yang Informatif
Press release atau siaran pers membantu perusahaan menyampaikan informasi resmi kepada jurnalis. Format ini dapat digunakan untuk mengumumkan peluncuran produk, hasil riset, kerja sama, pendanaan, atau perkembangan bisnis lainnya.
Agar efektif, press release perlu memuat judul yang jelas, inti berita di paragraf awal, data pendukung, kutipan narasumber, serta kontak media yang dapat dihubungi.
Hindari menulis press release seperti materi promosi yang dipenuhi klaim keunggulan produk. Fokuskan isi pada fakta yang relevan dan jelaskan mengapa informasi tersebut penting bagi audiens.
Panduan media relations dari UK Research and Innovation juga menekankan pentingnya sudut pandang yang menarik, bahasa yang mudah dipahami, serta penyampaian fakta dan angka secara konkret.
4. Bangun Hubungan dengan Jurnalis
Hubungan profesional dengan jurnalis membantu brand memahami kebutuhan pemberitaan sekaligus memudahkan komunikasi ketika ada topik yang relevan.
Mulailah dengan mengidentifikasi jurnalis berdasarkan beat atau bidang liputannya, seperti teknologi, bisnis, ekonomi, kecantikan, atau gaya hidup. Pelajari artikel yang pernah mereka tulis sebelum mengirimkan pitch.
Saat menghubungi jurnalis, jelaskan sudut berita yang ditawarkan, alasan topik tersebut relevan bagi pembacanya, dan data yang dapat mendukung pemberitaan. Hindari mengirimkan pesan massal yang sama kepada semua media.
Hubungan yang baik bukan tentang meminta pemberitaan positif atau memberikan imbalan untuk liputan editorial. Fokusnya adalah membangun komunikasi yang profesional dan menyediakan informasi yang benar-benar berguna bagi jurnalis.
5. Manfaatkan Data dan Insight Industri
Data dapat menjadi pembeda antara pengumuman perusahaan yang biasa dan cerita yang memiliki nilai berita.
Misalnya, perusahaan e-commerce dapat menerbitkan riset mengenai perubahan perilaku belanja menjelang akhir tahun. Sementara itu, brand skincare dapat menyajikan survei tentang kebiasaan konsumen dalam memilih produk perawatan kulit.
Agar layak dijadikan bahan pemberitaan, pastikan metodologi riset dapat dijelaskan, sumber data jelas, dan kesimpulan tidak melampaui temuan yang tersedia.
Data yang relevan juga dapat menjadi bahan bagi jurnalis untuk mengembangkan artikel, wawancara, atau analisis industri. Dengan demikian, brand memiliki peluang untuk dikenal melalui insight yang diberikan, bukan hanya melalui promosi produk.
6. Pilih Media Berdasarkan Target Audiens
Banyaknya media yang memublikasikan artikel tidak selalu menunjukkan keberhasilan kampanye PR. Brand perlu mempertimbangkan apakah media tersebut sesuai dengan target audiens dan tujuan bisnis.
Sebagai contoh, brand B2B yang menawarkan software untuk perusahaan mungkin lebih diuntungkan oleh pemberitaan di media bisnis atau teknologi dibandingkan eksposur luas di media yang audiensnya tidak relevan.
Sebelum memilih media, evaluasi beberapa aspek berikut:
-
Relevansi: kesesuaian topik dan audiens media dengan target market.
-
Kredibilitas: reputasi media dan kualitas editorialnya.
-
Jangkauan: potensi menjangkau audiens yang ingin dituju.
-
Distribusi digital: peluang mendapatkan referral traffic dan eksposur melalui kanal online.
-
SEO: relevansi website, karakteristik backlink, dan kesesuaiannya dengan strategi pencarian organik.
Dengan pertimbangan tersebut, brand dapat memprioritaskan kualitas penempatan media daripada sekadar mengejar jumlah publikasi.
Baca juga: 8 Tugas Marketing dan Keterampilan yang Dibutuhkan agar Hasil Campaign Terukur
Contoh Media Coverage yang Bisa Menjadi Referensi
Salah satu contoh campaign brand Indonesia yang menarik untuk dipelajari adalah “Luangkan ruang, agar yang berarti selalu punya tempat” dari IKEA Indonesia. Campaign ini diluncurkan pada Juli 2026 dan diberitakan oleh Marketing-Interactive pada 3 September 2026.
IKEA mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan konsumen: kebutuhan rumah tangga terus berubah, tetapi ukuran rumah tidak selalu bertambah. Campaign ini kemudian menawarkan perspektif bahwa ruang yang sudah tersedia dapat diatur kembali agar lebih sesuai dengan kebutuhan penghuninya.
Pesan tersebut dikembangkan melalui berbagai channel, termasuk social media, YouTube, Google Ads, website, aplikasi, Spotify, penempatan di KRL, dan aktivitas di toko. IKEA juga menggunakan pengalaman keluarga yang menyesuaikan ruang rumah setelah memiliki anak sebagai bagian dari narasi campaign.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana brand dapat mengangkat masalah sehari-hari menjadi cerita yang relevan dengan kebutuhan audiens, lalu mendistribusikannya melalui beragam touchpoint.
Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan: campaign IKEA tersebut merupakan contoh brand campaign terintegrasi yang mendapatkan pemberitaan media, bukan bukti bahwa seluruh kanal distribusinya merupakan earned media.
Pelajaran yang dapat diterapkan adalah membangun cerita yang berangkat dari kebutuhan konsumen, menghubungkan pesan dengan solusi yang ditawarkan, serta menyediakan materi yang relevan untuk diberitakan media. Dengan pendekatan tersebut, aktivitas marketing berpeluang menghasilkan nilai komunikasi yang lebih luas daripada promosi produk semata.
Cara Mengukur Keberhasilan Media Coverage
Setelah mendapatkan pemberitaan, brand perlu mengevaluasi apakah eksposur tersebut memberikan dampak sesuai tujuan awal. Jumlah artikel saja belum cukup untuk menilai keberhasilan kampanye.
Berikut beberapa metrik yang dapat digunakan:

Pilih metrik sesuai tujuan kampanye. Jika targetnya brand awareness, jangkauan dan share of voice dapat menjadi indikator awal. Jika tujuannya SEO, evaluasi referral traffic, organic clicks, dan kualitas backlink. Sementara itu, perubahan conversion perlu dianalisis dengan data tambahan agar kontribusi media coverage tidak dinilai secara berlebihan.
Maksimalkan Media Coverage untuk Mendukung Pertumbuhan Bisnis
Media coverage dapat menjadi bagian penting dari strategi PR dan digital marketing, mulai dari memperluas brand awareness hingga mendukung reputasi dan SEO. Namun, hasilnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak media yang memublikasikan berita tentang brand Anda.
Cerita yang relevan, kualitas media, ketepatan target audiens, dan evaluasi hasil tetap menjadi faktor utama. Karena itu, susun strategi media coverage berdasarkan tujuan bisnis, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi.
Jika Anda ingin memperluas eksposur brand melalui media online sekaligus mendukung strategi backlink, seedbacklink dapat menjadi salah satu opsi untuk dipertimbangkan. Pelajari layanan jasa backlink dan publikasi media Seedbacklink untuk menemukan pilihan publikasi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.








